Jumat, 04 Februari 2011

Desain Dapur

Maunya liburan Imlek malah dikerjai..... wastafel mampat!!!! Sebellllll..... kenken carane he.... Iseng2 diinternet dapet info beli Soda Api... bisa juga HCL.... Dah semaleman HCL dimasukin... mAsih buntu... Akhirnya jebol aja....Buat lobang 30cm di bawah wastafel..... buat "nyogrok" itu lobang pake bambu.... ladalah....ampun..... pipa 3dim tertutup lemak!!!! Akhirnya dengan sekuat tenaga tancep terus.... beres dah....

Trus punya niat bikin dapur yang nyaman biar istriku masaknya nyaman juga.... dapetlah ini.....

Untuk mewujudkan dapur idaman yang nyaman, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menatanya. Dapur merupakan area di dalam rumah yang butuh penataan cermat. Karena fungsinya yang unik, yaitu menyiapkan makanan, banyak peralatan khusus yang penempatannya tidak boleh sembarangan. Selain itu pekerjaan di dapur juga sangat spesifik, sehingga butuh ruang-ruang gerak dengan syarat tertentu.

Yang Harus Ada

Sebuah ruang bisa disebut sebagai dapur jika memiliki peralatan yang menunjang kegiatan di dapur, yaitu mengolah makanan. Pengolahan makanan jika diurutkan secara garis besar meliputi mencuci, memasak, dan menyimpan bahan makanan. Karena kegiatannya yang spesifik tersebut, ada bagian-bagian yang wajib hadir di dapur. Bagian-bagian ini menjadi area-area tersendiri di dapur, yaitu:

1. Tempat cuci atau persiapan, Di area inilah bahan makanan yang masih mentah dipilah-pilah dan dibersihkan. Pencucian peralatan masak juga dilaksanakan di tempat ini. Kegiatan bersih-bersih tersebut memerlukan sebuah meja kerja dan bak cuci (sink). Bahkan, jika memungkinkan alat pencuci pinggan (dishwasher) juga ditempatkan di area ini. Di bagian inilah terdapat saluran air, baik di atas bak cuci maupun yang dialirkan ke dalam dishwasher. Karena itu di area ini selain bak cuci boleh juga disiapkan area kosong sebagai meja kerja untuk menyiapkan bahan, seperti mengupas atau memotong-motong.

2. Tempat masak dan penyajian. Di wilayah ini yang pasti ada adalah kompor. Kompor ada yang diletakkan di atas meja dapur secara terpisah ada juga yang built-in atau ditanam di dalam meja dapur. Pada dapur-dapur modern, di atas kompor ditambah alat penghisap asap (lihat boks). Masih dalam area ini, peralatan lain yang lazim ada yaitu oven dan microwave, yang tugasnya sama, yaitu mematangkan makanan. Baik oven maupun microwave ada yang ditempatkan di atas meja dapur atau dibuat sekaligus disatukan dengan meja dan lemari dapur.

3. Tempat penyimpanan. Yang tak boleh luput dari perhatian adalah tempat penyimpanan bahan makanan. Di dalam dapur, tempat ini bisa berupa lemari dan lemari es. Saat ini, menurut Ir. Yeo Wen Han (Marketing Director, Metric Kitchen), sudah ada lemari khusus untuk bahan makanan kering, yang disebut rak kargo. Rak ini didesain khusus agar makanan yang disimpan terjaga kekeringannya. Biasanya rak ini berdaun kaca yang padat dan di dalamnya ada deretan jeruji tempat meletakkan makanan.

Formasi Segitiga

Ketiga area esensial tersebut idealnya tidak boleh diletakkan sembarangan. Ada teori peletakan di dapur yang dikenal dengan bentuk segitiga. “Artinya, area cuci, masak, dan penyimpanan, sebaiknya membentuk alur segitiga, sehingga jika pekerjaan akan diulang alurnya akan tetap sama dan tidak mengganggu pekerjaan lainnya,” jelas Wen Han.

Misalnya, untuk membuat sebuah masakan, orang pertama-tama akan mengambil bahan dari area penyimpanan. Katakanlah dari lemari es. Setelah itu bahan tersebut dibersihkan di bak cuci dan dipotong-potong. Proses selanjutnya adalah memasak bahan-bahan tersebut menjadi sebuah masakan di area kompor. Nah, semua pengerjaan itu sebaiknya dalam satu alur kerja. Jika orang tersebut ingin membuat lauk misalnya, ia tinggal mengulang kembali proses dari mengambil bahan di lemari es sampai ke kompor, dan seterusnya.

Peletakkan area tersebut juga tergantung pada persyaratan kondisi masing-masing peralatan. Untuk kompor, sebaiknya tidak diletakkan di dekat jendela karena angin akan berhembus meniup api kompor. Jendela boleh diletakkan di dekat bak cuci. Lemari es, sebagai tempat penyimpanan penting di dapur tidak boleh diletakkan bersebelahan langsung dengan kompor dan oven. Luangkan jarak antara dinding dan lemari es agar ada area untuk mendinginkan bagian kondensator lemari es. Meskipun alur kerjanya berurutan, bak cuci juga jangan diletakkan dekat sekali dengan kompor. Air yang memercik akan mengganggu proses memasak.

Jenis Dapur

Semakin kompleks kebutuhan orang sekarang ini, semakin beragam pula jenis dapur. Ada yang membedakan dapur berdasarkan fungsinya, yaitu dapur basah dan dapur kering.

1. Dapur Basah. Yang disebut dapur basah adalah tempat pengolahan bahan-bahan mentah sampai menjadi masakan. Di dapur ini jenis kegiatannya antara lain mencuci, mengupas, memotong, sampai memasak bahan. Disebut basah karena ada kegiatan membersihkan bahan mentah yang kotor sampai bersih, menggunakan air tentunya. Karena itu ada juga yang menyebutnya dapur kotor, karena segala sisa bahan dan proses pengolahan yang terkadang berkesan tidak bersih dikerjakan di area ini.

2. Dapur Kering. Kebalikan dari dapur basah adalah dapur kering, atau dapur bersih, atau pantry. Di dapur ini, kegiatan yang dilakukan memang berbeda. Dari dapur basah, makanan yang sudah jadi disimpan di dapur kering. Di sinilah makanan tersebut disiapkan, misalnya ditata di piring saji. Dapur kering digunakan juga untuk kegiatan “memasak” kecil-kecilan seperti menyeduh kopi atau membuat roti lapis. “Pantry saat ini banyak yang dilengkapi meja makan kecil,” ujar Wen Han. “Ini karena orang ingin bisa berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya sementara ia menyiapkan makanan,” tambahnya.

Untuk memiliki kedua jenis dapur di atas Anda tentu membutuhkan ruang yang relatif besar. Pelaksana di kedua tempat itu umumnya juga orang-orang yang berbeda. Para pembantu atau juru masak merupakan penghuni dapur basah, sementara itu para pelayan melayani majikannya di dapur kering. Tetapi itu merupakan gambaran idealnya. Saat ini banyak juga rumah yang memiliki kedua jenis dapur tersebut tanpa membeda-bedakan seperti itu. Adanya dapur basah dan kering hanyalah untuk alsan kebersihan dan keteraturan.

Ragam Bentuk

Karena ruang dan tenaga yang dibutuhkan untuk merawat kedua jenis dapur tersebut tidaklah kecil, orang saat ini lebih memilih untuk memiliki satu dapur. Selain lebih praktis, mempunyai sebuah dapur yang bisa menampung semua kegiatan jelas lebih murah.

Dapur yang “menyatu” seperti ini masih dibedakan ke dalam beberapa jenis berdasarkan bentuk meja kerja serta kabinetnya. (Meja kerja dan kabinet merupakan syarat utama sebuah ruangan untuk disebut sebagai disebut dapur. Jenis-jenis dapur itu antara lain:

1. Bentuk I. Bentuk ini merupakan yang paling sederhana, karena meja dapur hanya sebaris saja. Biasanya model ini cocok digunakan untuk rumah-rumah mungil, di mana lebar dapur hanya cukup untuk menampung satu ruang kerja. Pada dapur I ketiga alur kerja tidak memungkinkan dibuat segitiga. Karenanya, alur kerja dibuat lurus berjajar, mulai dari penyimpanan, bak cuci, sampai kompor.

2. Bentuk koridor. Hampir mirip dengan bentuk I, bentuk koridor juga mempunyai meja dapur yang lurus. Tatapi meja dapur terdapat pada kedua sisi dinding. Bentuk ini memang tidak lazim dijumpai pada rumah tinggal biasa. Bentuk dapur koridor lebih banyak ditemukan di apartemen kecil, dimana dapur kadangkala merangkap menjadi jalur sirkulasi. Dengan kedua sisi meja dapur, bentuk ini memungkinkan alur kerja dibentuk sesuai segitiga. Misalnya tempat cuci pada meja dapur sisi kiri sedangkan tempat memasak dan menyimpan bahan pada sisi satunya.

3. Bentuk L. Ini merupakan bentuk dapur yang paling banyak dijumpai. Selain efisien dari segi alur kerja, dapur jenis ini tidak membutuhkan ruang terlalu besar. Ruang seluas 2 x 3 m2 sudah bisa menampung semua kebutuhan standar sebuah dapur berbentuk L. Alur kerja yang ada pada dapur jenis ini berbentuk segitiga, yaitu satu area kerja di sisi “kaki L” yang pendek, dan dua area lainnya di sisi “kaki L” yang lebih panjang.

Pada ruangan yang lebih luas atau di mana “kaki L” yang satu jauh lebih panjang, biasanya di tengah ruangan diletakkan sebuah meja kerja. Meja di tengah semacam ini biasa disebut sebagai pulau atau island. Bagi yang menginginkan dapur yang dilengkapi dengan ruang makan, meja island tadi bisa disulap menjadi meja makan mungil. Tempat makan ini biasa disebut meja sarapan, karena biasanya di sinilah orang lebih suka makan pagi dibandingkan dengan meja makan besar. Sifat kegiatan sarapan yang tak resmi dan dilakukan dalam waktu yang singkat memang cocok dilakukan di meja island.

4. Bentuk U. Bentuk ini memiliki meja dapur yang mengelilingi 3 sisi dinding ruangan, sehingga dari denah tampak seperti huruf U. Karena meja dapur lebih panjang, peralatan di dapur jenis ini bisa lebih lengkap. Alur kerja pada dapur ini memungkinkan berbentuk segitiga. Bahkan dengan meja dapur yang hampir mengelilingi ruangan, pembagian area dan peletakan peralatannya bisa lebih bebas dan bervariasi.

Kebebasan peletakkan tersebut tentu membutuhkan ruang yang tidak sempit. Dua sisi meja dapur yang berhadapan harus mempunyai jarak tertentu yang memungkinan pekerjaan yang dilakukan di kedua sisi tidak saling mengganggu serta tidak menghalangi sirkulasi. Untuk ruang yang lebih besar lagi, pada bagian tengah ruangan kadang ditambahkan meja island, baik sebagai meja kerja maupun untuk sarapan.

Standar Ukuran

Apa pun bentuk dapur yang Anda pilih tergantung dengan luas ruang yang Anda miliki serta selera Anda dalam mengatur ruang. Namun, yang harus dijadikan pegangan dalam menata dapur adalah ukuran-ukuran standar yang membuat bekerja di dapur menjadi nyaman dan menyenangkan. Dalam arsitektur dan desain interior yang dijadikan pedoman ukuran adalah kegiatan manusia di dalam sebuah ruang. Demikian pula dengan dapur. Berikut ini adalah ukuran-ukuran yang penting untuk diperhatikan:

  1. Ketinggian meja dapur tempat bak cuci, kompor, dan meja kerja sebaiknya setinggi pinggul. Ini agar saat bekerja, posisi tangan tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, yang mengakibatkan pegal. Tinggi standar meja dapur adalah antara 85 – 90 cm dari lantai. Namun, jika Anda suka, Anda bisa menyesuaikannya dengan tinggi badan Anda sendiri.
  2. Jarak antara meja dapur dengan dasar tempat penyimpanan (kabinet) di atas sekitar 50 – 60 cm. Jika terlalu jauh jaraknya, Anda terpaksa mengangkat tangan tingi-tinggi untuk menjangkau barang yang ada di dalamnya. Jika terlalu rendah, kegiatan tangan Anda di atas meja dapur akan terganggu dan sering terbentur dengan dasar kabinet tersebut.
  3. Lebar meja dapur yang nyaman sekitar 60 cm. Dengan ukuran ini, tangan Anda bisa dengan leluasa bergerak. Luas ini juga memungkinkan kompor dan bak cuci standar dipasang rapat di meja dapur.
  4. Ketinggian kabinet paling atas biasanya 2,4 m atau 2,5 m dari lantai. Menurut Wen Han, ini karena langit-langit rumah di Indonesia biasanya setinggi 3 m. Sisa ruang di atas kabinet bisa dimanfaatkan untuk menyimpan barang-barang yang jarang digunakan. Ada juga orang yang memilih membuat kabinet sampai ke atas langit-langit, untuk memaksimalkan ruang penyimpanan dan menghindari debu menempel di atas kabinet.
Daerah kerja, yaitu daerah bebas yang harus ada antara satu meja dapur dengan meja dapur lain yang letaknya berhadapan, setidaknya harus berjarak 90 m. Jarak tersebut didapat dari kebutuhan ruang orang berdiri dan bekerja di meja dapur, serta orang membungkuk dan berjongkok saat mengambil barang dari kabinet bawah. Ini dengan catatan, area kerja tersebut tidak digunakan juga untuk jalur sirkulasi alias dilewati orang keluar-masuk dapur. Jika merangkap jalur sirkulasi, jarak tersebut minimum 120 m. Dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar